Pecel Mbok Sadur

Satu lagi salah satu kuliner Semarang….

Pecel Mbok Sadur adalah salah satu kuliner asli Semarang yang sudah eksis sekitar 4 dasawarsa lebih. Mungkin malah sekitar 50 tahun. Jualan pecel Mbok Sadur dimulai di gang kecil yang bernama Gandekan di Jl. Mataram. Jalan kecil ini menyebabkan pemakan setia pecel sedep ini harus rela jalan kaki sekitar 200m, dari Jl. Mataram masuk ke gang kecil ini, terutama jika jam makan siang. Mobil kecil dan menengah masih bisa masuk ke dalam gang kecil ini dan parkir di dekat tempat jualan pecel, tapi hanya terbatas maksimal 5 mobil sudah penuh sekali jalan kecil itu.

pecel-lengkap

Mbok Sadur memulai jualan pecelnya agak ke tengah lebih dekat ke Jl. Mataram jika dibandingkan tempat permanen yang ada sekarang. Berjualan di bawah pohon, dengan tampilan yang persis seperti dalam foto. Saya masih ‘menangi’ si Mbok Sadur yang jualan. Diperkenalkan pertama kali oleh Papa waktu saya masih kecil, makan siang di sini, dan seterusnya jadi ketagihan sampai sekarang. Jika sedang ke Semarang kurang lengkap rasanya tanpa mampir dan makan di sini.

Jaman itu yang paling mengesankan saya adalah setiap tamu yang makan di bawah pohon itu disuguhkan minuman air dingin dalam cangkir stainless steel kuno. Ini kesan yang paling mendalam sampai sekarang. Walaupun memang disediakan juga minuman standard pendamping pecel mak nyus ini.

Sekarang pecel ini sudah diteruskan oleh cucu-cucu Mbok Sadur dan berkembang menjadi 3 cabang, yaitu di tempat asal di Gandekan, kemudian di Jl. Gajah Mada dan kalau tidak salah di Simpang Lima.

Hidangan lengkap pecel yang saya makan siang itu didampingi dengan sate usus yang dilepas dari sunduknya, ditambah bantal 2 buah, sedikit mie goreng ‘kampung’, kerupuk karak/gendar dan disiram dengan sambel pecel.

pecel-sate-usus

Apa itu bantal?

Bantal sebenarnya adalah gorengan yang mirip martabak, atau saya bilang memang martabak dalam ukuran kecil. Rajangan sayur dibungkus tepung dan dibentuk kotak digoreng renyah menjadi pendamping wajib sajian pecel Mbok Sadur ini.

bantal

Berbagai pendamping lainnya digelar dengan royal dan menggoda sekali. Sate usus, sate kulit, telor pindang, perkedel kentang, tempe goreng, telor ceplok, rempeyek kacang, rempeyek teri, mentho, dan sajian lain yang sungguh generous digelar di depan mata.

sate-keong-kulit

peyek-teri

sate-keong-kulit-lainnya

peyek-kacang

Sajian pecel Mbok Sadur ini memang sangat nikmat menjadi menu makan siang di Semarang yang panas, dan ditutup dengan segelas es teh tawar. Sungguh ngangeni dan membuat saya kembali dan kembali lagi setiap kali ke Semarang……

cucu-mbok-sadur

Dari nenek sampai dengan cucu, tetap setia dari Semarang ‘meceli’ lidah orang Semarang dan sekitarnya, membuat kangen kawula di mancanegara…..

Note:
Tulisan ini pernah tayang di Komuniti Kompas KoKi http://community.kompas.com/read/artikel/1559

Advertisements

8 Responses

  1. sebelah rmh ku kan jual pecel…ape bosen aku maem pcel…

  2. Duh…..bener2 bikin selera kulinerku ditusuk-tusuk, oh…Pecel Komplit, nasib…nasib….sore2 udah bikin laper!!!

    • Lhooooo…lha ayo monggo lho….mau berapa pincuk? hehehe….matur nuwun sudah mampir….

  3. Om JC aku pasti mampir kesini (pecel mbok sador) tiap mudik.. pecelnya mantep, biasanya plus sate keong 🙂

  4. absen…coba ya malem2x disuguhin foto makanan gini…jd ngeces deh…pokoknya kalo mudik JC harus traktir aku makan hehehehe

  5. waduh… kapan aku iso ngicipi pecel iki ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: